Home Revitalisasi Pendidikan IPS dalam Pembangunan Karakter Bangsa

Gambar: 
Isi: 

Menemukan kembali Republik Indonesia ini dengan revitalisasi pendidikan IPS dalam pembangunan karakter bangsa yang bertitik-tolak dari Doktrin Kebangsaan dan Doktrin Kerakyatan dalam payung pekerti Pancasila. Tanpa doktrin nasional bangsa ini akan ela elo, mudah terombang-ambing tanpa pegangan, terlanda kebingungan, berjalan tanpa pedoman arah untuk mempertahankan Kemerdekaan Nasional yang telah kita miliki sejak Proklamasi Kemerdekaan 1945, demikian disampaikan Prof. Dr. Sri Edi Swasono Guru Besar Universitas Indonesia pada Seminar Nasional dengan tema “Revitalisasi Pendidikan IPS Dalam Pembangunan Karakter Bangsa” yang diselenggarakan Himpunan Sarjana Pendidikan Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia (HISPISI) bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Sosial (FIS) dan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada Minggu (15/01) di Auditorium FE UNY. Menghadirkan pembicara lain Prof. Dr. HM Djahir Basyir Guru Besar Universitas Sriwijaya Palembang dan Dr. Surwandono Dosen FISIPOL Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Nasionalisme tidak akan usang, senantiasa merevitalisasi diri betapapun kita menghadapi globalisasi. Kelompok-kelompok cendikiawan yang sok ke-Barat-Barat-an yang sekaligus gampang kagum dan tunduk terhadap globalisasi, cenderung mencemooh semangat nasionalisme. Cemooh mereka ini tak lain adalah persembunyian untuk menutupi ketertundukan mereka terhadap skenario adikuasa global tentang berakhirnya sejarah perang ideologi yang berhasil mencuci otak kita, sehingga kita lengah akan kewaspadaan terhadap musuh yang mengintai kita, melumpuhkan nasionalisme, menghancurkan sovereignty dan territorial integrity kita serta meminggirkan ideologi ber-Pancasila. Inilah imperialism baru yang siap menerkam Indonesia dengan mendikte pola pikir kita, ujarnya.

Kepemimpinan nasional yang teguh dan handal yang bisa memberikan rasa aman, tenteram, bahagia, penuh kasih, sangatlah diperlukan saat ini, bagi kita semua tanpa kecuali. Dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rote, khususnya bagi mereka yang masih tertindas seperti yang dirasakan antara lain oleh saudara-saudara kita tercinta di Papua.

Selanjutnya, media massa khususnya media elektronik harus ikut mengambil tanggungjawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa seperti dikemukakan di dalam makalah. Maksud mengangkat tema-tema modernisasi jangan sampai keliru menjadi westernisasi. Iklan-iklan hendaknya tidak semata-mata konsumtif, terutama barang-barang impor yang menggusur produk-produk dalam negeri, melainkan ikut mendorong semangat produktif, tegasnya.

Sedangkan menurut Surwandono, secara general terdapat kecenderungan sistem pendidikan Indonesia cenderung menggunakan nalar konsumsi daripada nalar produksi secara simultan. Sistem pendidikan yang membangun kompetensi siswa telah menjadikan konsumsi pengetahuan secara masif menjadi instrumen harga mati untuk mendapatkan derajat kompetensi minimal untuk dinyatakan lulus dalam jenjang pendidikan tertentu.

Implikasinya bisa mudah ditebak bahwa salah satu cara untuk meningkatkan derajat kompetensi adalah dengan memberikan asupan pengetahuan yang sebanyak-banyaknya pada siswa. Semakin banyak asupan yang masuk dalam struktur memori siswa maka akan berkorelasi positif dengan kemampuan siswa dalam menyelesaikan problem kompetensi secara maksimal dan membanggakan. Berbagai program pengkayaan asupan pengetahuan kemudian digelar dalam bentuk program privat, les, bank soal, pembahasan soal, try out dilakukan hampir di seluruh penjuru negeri, ungkapnya.

Rektor UNY Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA saat membuka acara seminar memberikan apresiasi yang sangat tinggi pada HISPISI yang telah memberikan kontribusi nyata di dunia pendidikan. Antara lain dengan mengadakan program kemitraan antar Perguruan Tinggi anggota HISPISI dari berbagai program studi di lingkungan Jurusan Pendidikan IPS dengan saling tukar menukar Dosen diantara Perguruan Tinggi yang disepakati bersama. (Isti)